Rindu Yang Tertahan


Cinta memang bisa tumbuh dengan sendirinya, tapi cinta tidak bisa dipaksakan untuk tumbuh ataupun hilang. Ini kisahku dengan seorang pria asal Medan, kami jumpa ketika magang kerja bulan 31 Juli 2019. Pertemuan itu tidak didasari dengan kesengajaan, justru aku masih tidak percaya, rasanya seperti mimpi. Dua bulan sebelum aku memulai magang di tempat A, aku sempat bertemu dengannya. Aku meminta Tuhan untuk mempertemukan kami lagi di lain waktu dan di lain tempat, kalian tahu? Tanggal 31 Juli itu adalah pertemuan yang Tuhan berikan padaku. Sungguh, aku bersyukur karena Tuhan memberikan kami kesempatan untuk saling mengenal satu sama lain. Namun semua itu menjadi perdebatan besar, karena kami beda agama tetapi kami memiliki kemiripan beberapa karakter, tujuan hidup yang sama dan prinsip hidup yang sama. Kami saling memahami beberapa perbedaan yang ada, termasuk agama kami. Bahkan dia tidak pernah ikut campur perihal aku bagaimana beribadah ataupun berhijab. Dia hanya memperingatkan aku untuk terus berbuat baik dan jangan jadi orang jahat. Jika kalian tanya, bagaimana cara kalian bertahan? LDR jarak dan LDR Tuhan. Itu yang kami lakukan. Ketika aku berada pada titik terendah, aku lelah dengan segalanya, aku muak dengan segalanya, dia yang menguatkan aku untuk terus melangkah menuju mimpiku. Mimpi kami memang berbeda, tapi dia sangat tahu cara mengisi kekosongan hatiku, dia juga tahu caranya membuat moodku tetap stabil. Semuanya terasa sangat indah, aku nyaman, aku bahagia dengan dia, meskipun terdapat pertengkaran-pertengkaran yang beberapa kali menghadang kami. Tapi aku tetap bahagia, amat sangat bahagia dari semua hubungan pacaran yang pernah aku jalani. Namun semuanya tidak bisa bertahan lama, dua bulan lebih, aku memilih untuk memutuskan hubungan pacaran kami. Bukan karena sama-sama sudah berubah, ataupun ada masalah lain. Tapi aku sadar, aku tak boleh egois. Aku harus melepaskan dia. Dia harus bertemu dengan gadis lain yang lebih pasti mendapatkan restu dari keluarganya. Bukan dengan aku yang sudah jelas tidak mendapatkan restu orang tua. Tanggal 4 Januari, menjadi awal tahun 2020-ku yang menyedihkan. Aku menangis berhari-hari, mungkin terkesan cengeng bagi kalian. Tapi kalian nggak akan pernah tahu, bagaimana rasanya aku bersyukur pernah bersama dia, bagaimana bahagianya aku punya dia, bagaimana aku sedih ketika harus menerima kenyataan bahwa kami tak bisa bersatu. Sulit menerima kenyataan ini, aku masih tidak rela melepaskannya pergi. Tapi aku percaya, Tuhan akan menjaga dia dengan baik. Terlepas dari apapun agama dia. Hati ini masih sama, sering merindukannya, masih mencintainya, masih sangat sayang padanya. Bahkan nggak jarang aku tiba-tiba kepikiran dengannya. Meski begitu, aku nggak pernah gengsi untuk mengirimnya chat dan menelponnya sesekali. Mungkin terlihat labil karena setelah memutuskan tapi masih berusaha mengejar lagi. Aku tekankan pada kalian, aku tidak mengejar dia untuk kembali padaku. Bukan. Aku hanya khawatir dan ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja. Aku mencintainya, amat sangat mencintainya, tapi bukankah cinta tidak harus memiliki? Cintaku padanya mungkin hanya Tuhan yang tahu, seberapa besar, seberapa dalam dan seberapa tulus. Aku tidak mau sok puitis, tapi memang inilah yang terjadi padaku. Aku mencintainya, tapi dunia tidak mendukungku. Ternyata Tuhan hanya mengijinkan kami untuk dekat sebagai sahabat dan lebih mengenal satu sama lain. Bukan saling menyayangi, terlebih mencintai.


Buat kalian yang cinta beda agama, tak apa. Jangan sedih. Tuhan tidak akan mempertemukan kalian tanpa ada rencana indah di masa depan. Tetap semangat! Cintai ia dalam setiap do’amu.

Comments